Dan, Bekisar Merah itu pun Terbang (Bagian 1)

Cerita yang akan kami tuturkan ini bukan berarti hendak mengait-ngaitkan segala rangkaian kejadian yang kebetulan dialami dengan kepulangan rekan kami ke hadirat-Nya. Mohon ditanggapi dengan bijaksana. Terimakasih..

Kamis, 8 Maret 2007
Sekitar pukul 11.00 WIB

Tidak ada yang aneh sejak dua jam lalu tiba di kantor. Menjelang siang itu semua personel Pusinfo tengah beraktivitas sambil sesekali melontarkan kelakar. Pak Dedi Yuliarto (Web Programmer P2KP) dan Pak Sutadi Slamet (TA SIM P2KP) tengah bersiap mengikuti rapat di lantai 2 ketika saya tiba-tiba tergoda nyeletuk, “Tumben nih, semuanya berpakaian rapi. Ada apa ya?”

Biasanya memang kami mengenakan pakaian kasual, setidaknya berkemeja lengan pendek. Tapi, hari itu, semua personel mengenakan kemeja lengan panjang dan celana bahan. Agak ganjil, menurut saya. Ucapan saya tadi ditanggapi dengan rangkaian kelakar, lalu waktu pun bergulir tanpa terasa.

Pukul 12.00-an
“Internet ngadat lagi nih. Modemnya sudah di-restart , tetap nggak bisa connect,” keluh Pak Ottow (SIM P2KP). Saya tidak berkomentar, karena sedang seru mengetik berita tentang Pak Totok Priyanto (alm) dan mengedit artikel dari KMW V P2KP-3 Medan.

Pukul 13.30-an
Internet “sembuh”, dan kami melanjutkan aktivitas upload web dan pekerjaan lain. Fajar Erismoko (Web Administrator P2KP) mengingatkan, hari ini kemungkinan rekan kami, Nesty Wulandari Dwi Palupi, melahirkan. Ia pun menghubungi HP Nesty. “Alhamdulillah anaknya sudah lahir, caesar. Hanya saja, Nesty masih belum sadarkan diri. Tadi sempat kejang,” jawab Widyo Sulastomo, suami Nesty sejak 13 Januari 2006. “Alhamdulillah kalau sudah lahir. Semoga Nesty lekas bangun, ya,” timpal Fajar.

Pukul 15.10
HP Pak Sutadi berdering. Sesaat setelah diangkat, wajah Pak Sutadi yang sebelumnya dihiasi tawa akibat kelakar kami satu sama lain, berubah pucat. “Hah? Ya Allah, Mbak Nesty meninggal?” serunya, sambil masih memegangi HP. Kami terperangah. Kami segera istighfar dan menyebut nama Tuhan. Sungguh, perasaan kami campur aduk tak keruan..

Dedi YuLiarto (Web Programmer):
Innalillaahi wa innailaihi roji'uun....

Ya Allah sempurnakan bacaan "yasin dan tahlil" yang belum bisa fasih saya bacakan... hantarkan, sampaikan, dan jadikan ini sebagai pengiring kepulangan temanku Nesty.

Mas Widyo Sulastomo (suami), yang tabah, ya... Mungkin ini jalan terbaik yang Allah sudah tentukan. Masih ada "Nesty kecil" yang bisa memberikan kebaikan-kebaikan kepada Nesty, istri tercinta Mas...

Awali dan akhiri perjalanan seorang teman Nesty:

Sekitar awal tahun 2005, saya bertemu Nesty di pameran komputer JCC Jakarta 2005. Waktu itu Nesty sebagai penjaga stand ”prodikeys”, dan Pak MZ membeli salah satu produknya — beberapa waktu kemudian, keyboard tersebut berpindah tangan, dan hingga kini masih "menempel" di komputer saya di rumah. Saat pameran itu, kami sempat berbincang soal "background pendidikan", ternyata Mbak Nesty ini adalah seorang Sarjana Komputer yang jago main piano (keyboard). Pak MZ pun menyimpan kartu namanya.

Suatu waktu, website ini (p2kp.org) kekurangan "orang", seiring banyaknya pekerjaan yang perlu diselesaikan. Setelah sekian minggu kami (Tim Web) sibuk mencari orang yang tepat, tiba-tiba Pa MZ menemukan kartu nama Nesty. Tak lama pun Nesty bergabung dengan Tim Web dan P2KP.

Maaf ya... saya seorang teman yang sering "mengomeli" Nesty soal pekerjaan...
Maaf ya....kadang saya tidak bisa membantumu karena terlalu egois dengan kesibukan sendiri..
Maaf juga...saya seorang teman tidak bisa menjadi pendengar yang baik tentang keluh-kesahmu...
dan... beribu-ribu maaf lainnya yang "tetap terlambat" tidak bisa saya ucapkan sebelum kepergianmu....

Ya Allah terimalah semua amal ibadahnya, ampuni semua dosa khilafnya, dan tempatkanlah dia di tempat yang Engkau ridhoi.

Ya Allah jadikan "sikecil" (putranya) sebagai insan yang selalu dapat mendoakan dan memberikan kebaikan terhadap almarhumah ibunya, dan keluarganya.

Amin Ya Robbal Alamin.

Anna Shavin (Sekretaris Advisory):
Nun jauh di sana………….
Engkau tersenyum bangga, melihat “malaikat kecilmu” yang montok dan sehat
Sering kamu bertutur tentang bagaimana menjadi ibu....yang sangat kamu nantikan
Titian kasih yang kau berikan untuknya begitu dalam
Yang tiada bandingnya di jagad raya ini

Wajah yang ayu dan anggun.....
Untaian senyum yang tak terlepas darimu...
Letih dan penat tak kau rasa
Awan mendung pun tak mampu mengusir keceriaanmu
Nyanyian kecilmu yang menyejukkan
Doa yang kau untai untuk sahabat , kerabat dan siapapun yang dekat denganmu, tulus kamu berikan..
Air yang sejuk hilangkan dahaga yang teramat ......itulah kamu
Riuh kami tersentak.......
Innalillahi Wa Innalillahi Rojiuun

…Selamat jalan adikku…..Allah SWT menanti mu di surga-Nya...

Nina Firstavina (Web Editor):

Saya kenal Nesty pada November 2005, ketika baru bergabung dengan Tim Web P2KP. Kami langsung akrab sejak hari pertama. Dia memang orang yang ramah dan asyik diajak diskusi. Pengetahuannya sungguh luas, apalagi soal agama. Bicara dengan dia selalu menyejukkan, karena tutur katanya halus, namun tegas. Sifat penyabar langsung kentara di figur wanita langsing ini. Saat pertama bergabung, saya benar-benar awam soal P2KP. Nesty lah yang terus membantu, membimbing, dan menyemangati saya untuk mempelajari substansi P2KP. Ia juga rajin mengenalkan saya kepada para personel KMP P2KP-2 (saat itu kantor kami masih bergabung dengan KMP).

Secara profesional, Nesty sangat rajin, telaten, dan tekun. Lihat saja jadwal pengiriman berita partisipatif KMW-KMW yang tersusun rapi untuk setahun. Itulah salah satu “karya” Nesty. Ia juga selalu melakukan pekerjaan hingga selesai dengan baik. Ketika ia direkomendasi untuk pindah ke PPM, sayalah yang merasa paling kewalahan. Karena, saya baru sadar, tanpa dia, kami keteteran terutama untuk hal surat menyurat, feed back, dan follow up ke KMW-KMW.

Secara pribadi, ia sangat menyenangkan dengan sense of music yang luar biasa. Di balik kekalemannya, ternyata dia wanita tangguh dan bernyali besar. Betapa tidak, suatu hari Nesty pernah bercerita diganggu pria tak dikenal di kereta api. Tanpa ragu, Nesty yang saat itu tengah hamil muda, langsung mendamprat si pengganggu di tempat. Sungguh wanita pemberani! Dia pendengar curhat yang baik, penyimpan rahasia yang handal dan amanah, serta sahabat setia yang banyak memberi masukan mengena di hati. “Kalau kita punya niat lurus, Insya Allah, pasti Allah selalu ngasih jalan, Teh,” begitu Nesty sering berpesan. Ucapan itu selalu terngiang di sanubari, bahkan sering memotivasi saya dalam melakukan berbagai hal baik.

Sungguh, saya akan sangat merindukannya. Nesty bukan hanya rekan kerja yang tangguh, ia juga sahabat dan adik tersayang. Harumnya syahidmu dan berkah keindahan hidupmu akan selalu kami kenang, Nes.. Selamat jalan, Dik.. Bersambung. (Tim Berita Web; Nina)

(Sumber: https://kotaku.pu.go.id/page/4215)

Comments

Popular posts from this blog

Rame ing Gawe, Rame ing Publikasi

Dan, Bekisar Merah itu pun Terbang (Bagian 2)

Fasilitator yang Mengarahkan Masyarakat Silakan Mengundurkan Diri