Dan, Bekisar Merah itu pun Terbang (Bagian 2)

Melanjutkan kenangan Almarhumah Nesty Wulandari Sulastomo (2 Mei 1981 – 8 Maret 2007) yang wafat setelah melahirkan bayi laki-laki “Rafi Adzril B” (3,4 kg/47 cm) secara caesar di RS Bhakti Husada Baru, Depok.

MZ Masngudi (mantan Webmaster P2KP):

Pertama saya kenal Nesty di Pameran Komputer & Elektronik di JCC, tahun 2004. Saat itu dia sedang demo penggunaan produk inovatif, gabungan keyboard musik plus keyboard qwerty.

Saya memperhatikan kemampuan dan kesungguhan dia dalam cara memainkan keyboard, dan saat memberi penjelasan kepada puluhan orang yang tertarik. Saya menyimpulkan, dia orang yang sangat tekun dalam belajar dengan dedikasi kerja yang sangat baik. Saya pun menyimpan kartu namanya.

Sekian bulan berlalu, saat itu Tim Web perlu tambahan seorang ahli content. Saya teringat Nesty, kemudian segera menghubungi HP-nya. Setelah beberapa kali berdiskusi, selang satu bulan kemudian, bergabunglah Nesty bersama Tim Web KMP. Ternyata, dia bukan hanya seorang yang sangat tekun dan berdedikasi, tapi juga mudah dalam teamwork, sangat santun, dan sangat peduli pada kesusahan orang lain. Tim Web pun semakin handal.

Ketika saya diminta untuk melepaskan Nesty dari Tim Web untuk dipindah ke PPM, saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Karena, sudah pasti semua kru web keberatan, terlebih-lebih saya. Saya hanya bisa mengatakan kepada Pak Zul (saat itu TL KMP P2KP-2—red) agar beliau sendiri saja yang bicara ke Nesty. Hasilnya, saya surprise. Ternyata meski dengan sangat berat hati, dia rela berpisah dengan kami waktu itu. Nesti menerima permintaan itu semata-mata atas pertimbangan, “Demi P2KP”.

Sungguh, dia dewasa dalam mengambil keputusan. Saat itu kami, Tim Web, kehilangan Nesty… Kini, kami semua kehilangan Nesty, untuk selama-lamanya.

Muhamad Ridwan (SF Korkot-2 KMW I P2KP-3 NAD)

Innallillahi Wainnaillaihiiroojiuun…

Saya masih ingat, waktu itu tanggal 25 November 2005, dua hari sebelum keberangkatan ke Medan untuk Pelatihan Pra Tugas Fasililitator yang akan bertugas di Aceh, saya terakhir bertemu beliau di KMP. "Selamat Jalan, Selamat bertugas, Jangan lupa kirim kabar terbaru tentang Aceh," itulah kalimat terakhir yang saya dengar dari Mbak Nesty, sambil mengantar saya turun dari lantai 3 (kantor Pusinfo) ke lantai 2 KMP.

Belum Lama saya mengenal Mbak Nesty, tapi saya tahu beliau adalah pribadi yang baik dan ramah. Pernah saya meminta pendapat beliau tentang sebuah Karya Tulis dalam bahasa Inggris tentang UPP di Indonesia dari seorang kandidat doktor dari universitas terkemuka di Amerika yang mengirim e-mail ke saya, dengan cepat beliau merespon dan mengutarakan pendapatnya. Beliau juga membantu memuat beberapa foto kegiatan P2KP yang saya kirim di Web P2KP.

Kejadian meninggalnya Mbak Nesty, mengingatkan saya pada masa lalu.
Waktu itu Desember 1999, ketika Ibunda tercinta saya wafat, juga pada saat melahirkan, Allah pun mentakdirkan bayi yang dilahirkan pun tidak selamat. Saya bisa merasakan kesedihan yang dirasakan suami Mbak Nesty dan keluarga. Ironis memang, angka kematian ibu melahirkan (resiko kematian ibu hamil) di Indonesia masih tinggi. Walau faktor penyebabnya beragam, dan kita tahu semua, bahwa tinggi rendahnya mortalitas (kematian) ibu melahirkan menjadi indikator kemajuan sebuah bangsa.

Saya baca harian Kompas Edisi 3 Maret 2006 (halaman 8). "Indonesia Mundur soal MDG's, Indonesia memperoleh skor negatif, baik dalam indeks kemajuan maupun dalam status akhir, dari 7 sasaran MDG's, 6 diantaranya masuk kriteria mundur yaitu garis kemiskinan nasional, kekurangan gizi (termasuk kesehatan & gizi ibu hamil), kerusakan hutan, emisi air bersih di kota dan sanitasi di desa". Mudah-mudahan dengan PNPM – P2KP, kita bisa mengejar semua ketertinggalan itu.

Mbak Nesty, Mbak akan jadi inspirasi dan sumber semangat kami sebagai pelaku PNPM – P2KP, bagaimana kami harus bekerja di masyarakat. Khususnya bagaimana meningkatkan kesejahteraan kaum perempuan..

Sebuah Syair untuk Mbak Nesty..

Bila Ibu Boleh Memilih

Anakku....
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu..
Maka ibu akan memilih mengandungmu..
Karena dalam mengandungmu,
Ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan, Nak,
Engkau hidup di perut ibu
Egkau ikut kemana pun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman,
karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku...
Melahirkanmu adalah sebuah perjuangan,
Karena, menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga

Dan ketika engkau hadir,
tangismu memecah dunia
Saat itulah...saat paling membahagiakan
Segala sakit dan derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah
dan penetapan hati tentang junjungan kita, Rasulullah,
di telinga mungilmu

Anakku...
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang kantor
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku,
Hidup memang pilihan...
Jika dengan pilihan dan takdir Allah, tidak bisa melihatmu tumbuh,
Ibu yakin engkau tidak akan merasa sepi dan merana,
Maafkanlah, Nak... Maafkan ibu... Maafkan ibu...
Percayalah nak, ibu sebenarnya ingin menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu keping pun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak,
Engkau selalu menjadi belahan nyawa ibu...

Selamat Jalan Mbak Nesty,
Selamat Jalan Ibu Muda,
Selamat Berbahagia di Surga..

(Tim Berita P2KP; Firstavina)


Sumber: https://kotaku.pu.go.id/page/4219 

Comments

Popular posts from this blog

Rame ing Gawe, Rame ing Publikasi

Fasilitator yang Mengarahkan Masyarakat Silakan Mengundurkan Diri